Pacu Wisata Syariah, UIN Bukittinggi Gandeng Industri Malaysia

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) - Pacu Wisata Syariah, UIN Bukittinggi Gandeng Industri Malaysia

Pasar pariwisata ramah muslim di kawasan Asia Tenggara terus menggeliat. Guna menangkap peluang emas tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Sumatera Barat, bergerak cepat memacu mutu program studi berbasis syariah dengan menggandeng pelaku industri mancanegara.

Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UIN Bukittinggi dan Asosiasi Pengusaha Homestay Malaysia, Senin (29/6/2026), dalam sebuah acara resmi di UIN Bukittinggi.

Kolaborasi ini dinilai sangat prospektif mengingat posisi Sumatra Barat yang menjadi salah satu destinasi unggulan wisata halal di Indonesia.

Rektor UIN Bukittinggi Prof. Silfia Hanani, melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Dr. Edi Rosman, menegaskan bahwa penguatan akademik tidak bisa lagi dilepaskan dari standardisasi industri global. Wisata syariah bukan sekadar tren musiman, melainkan sektor riil dengan prospek pertumbuhan yang sangat tinggi di kawasan regional.

“Peningkatan mutu program studi syariah harus adaptif dengan kebutuhan pasar internasional. Kerja sama ini membuka jalan bagi kurikulum kita agar selaras dengan praktik terbaik di Asia Tenggara,” ujar Edi Rosman.

Upaya penyamaan standar ini diamini oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Homestay Malaysia, Dato’ Sahariman Hamdan. Menurutnya, konektivitas pariwisata kedua negara akan jauh lebih kuat jika terdapat harmonisasi regulasi dan pelayanan yang setara di tingkat tapak.

“Standar wisata halal Indonesia dan Malaysia didorong untuk disamakan. Malaysia saat ini punya Islamic Tourism Center (Pusat Wisata Islami) dan MFAR (Muslim Friendly Accommodation Recognition). Saat ini Malaysia memiliki 255 kampung wisata dan jumlah ini akan berkembang sampai 270. Semua homestay yang ada itu wajib lulus akreditasi sebagai homestay syariah. Karena itu, Asosiasi Pengusaha Homestay Malaysia dapat memfasilitasi mahasiswa UIN Bukittinggi melakukan Kuliah Kerja Nyata Internasional dan magang,” tutur Sahariman.

Standardisasi “Homestay” Syariah

Penguatan kompetensi mahasiswa di ranah global diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang siap mengisi ceruk pasar wisata ramah muslim. Namun, tantangan terbesar saat ini berada pada aspek operasional konkret di lapangan.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Bukittinggi, Dr. Aidil Alfin, menekankan bahwa kenyamanan wisatawan sangat bergantung pada kepastian layanan. Oleh karena itu, penyusunan panduan baku menjadi harga mati bagi ekosistem pariwisata syariah.

“Kami menekankan pentingnya SOP (Standard Operating Procedure) untuk Homestay Syariah. Tanpa adanya SOP yang jelas dan terukur, peningkatan mutu industri ini akan sulit dicapai,” tegas Aidil Alfin.

Acara penandatanganan kerja sama internasional tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan FEBI UIN Bukittinggi, antara lain Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama, Zuwardi, MA, serta Kepala Pusat Hubungan Internasional, Dr. Irwandi.

Melalui kemitraan lintas negara ini, UIN Bukittinggi membidik posisi sebagai salah satu pusat pengembangan dan penyedia tenaga ahli wisata syariah terkemuka di Asia Tenggara.