Studium Generale FEBI Bahas Masa Depan Keuangan Islam

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) - Studium Generale FEBI Bahas Masa Depan Keuangan Islam

Bukittinggi, 11 Mei 2026 — Program Studi Akuntansi Syariah dan Program Studi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menggelar Studium Generale bertema Knowledge and Talent Development in Islamic Finance: Where Are We Heading, Senin (11/5), melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan akademisi internasional, Prof. Abdul Ghafar Ismail dari Universiti Kebangsaan Malaysia, dan diikuti oleh dosen serta mahasiswa FEBI sebagai bagian dari penguatan wawasan akademik dan pengembangan sumber daya manusia di bidang keuangan syariah.

Acara dibuka oleh Wakil Dekan I FEBI, Era Sonita, SE, M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar pertanyaan retoris, melainkan refleksi kritis terhadap arah perkembangan industri keuangan syariah saat ini.

“Industri keuangan sedang mengalami transformasi yang sangat cepat. Digitalisasi, regulasi baru, hingga tuntutan kompetensi global mengharuskan kita tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga mampu membangun talenta yang adaptif, inovatif, dan berintegritas,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengembangan pengetahuan saja tidak cukup tanpa dibarengi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan masa depan.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga kompeten secara profesional.

“UIN harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga unggul dalam kompetensi dan siap menghadapi dinamika industri global,” tegasnya.

Sementara itu, Prof. Abdul Ghafar Ismail dalam paparannya menekankan bahwa masa depan keuangan Islam tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan industri dan institusi keuangan, tetapi juga oleh kualitas pengetahuan dan pengembangan talenta.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI), fintech, dan perubahan ekonomi global menuntut keuangan Islam untuk bergerak melampaui pendekatan tradisional yang hanya berorientasi pada kepatuhan syariah semata.

“Keuangan Islam masa depan membutuhkan integrasi antara nilai Islam, etika, kompetensi profesional, dan kemampuan teknologi,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, ia juga memperkenalkan konsep tawhidic epistemology sebagai landasan dalam membangun insan keuangan Islam yang memiliki integritas, tanggung jawab sosial, dan orientasi pada kemaslahatan umat.

Selain itu, narasumber menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan regulator dalam membangun ekosistem pengembangan talenta keuangan Islam yang lebih adaptif dan inovatif.

Menurutnya, pendidikan keuangan Islam harus bergerak menuju konsep Knowledge 5.0, yaitu integrasi antara teknologi, kecerdasan manusia, dan nilai-nilai etika Islam dalam proses pembelajaran dan pengembangan industri.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme mahasiswa yang aktif berdiskusi terkait tantangan pengembangan karier dan masa depan industri keuangan syariah di era digital.

Melalui Studium Generale ini, FEBI menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya akademik yang responsif terhadap perubahan global, sekaligus mendorong pengembangan talenta keuangan syariah yang kompetitif, adaptif, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.

(Humas FEBI/HP)